|
Kali ini BBB akan membahas sejarah masjid
al-mujahidin cibarusah artikel bbb copas dari salah satu blog
http://gunrakyatbekasi.wordpress.com/2013/05/27/masjid-al-mujahidin-cibarusah-basis-perjuangan-melawan-penjajah/
bbb copas bukan maksud lain hanya ingin menyebar luaskan sejarah yang
mungkin masarakat bekasi yang belum tau tentang sejarah masjid
al-muhajirin ini.
Banyak masyarakat Indonesia yang belum
mengenal lebih jauh Masjid al-Mujahidin yang terletak di Cibarusah
Bekasi ini. Masjid ini tepatnya berada di Kampung Babakan Cibarusah
(biasa disebut KBC) masuk dalam Desa Cibarusah Kota, Kecamatan
Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat. Masjid ini adalah
masjid yang penuh dengan sejarah perjuangan heroik umat Islam dalam
kontribusinya mengusir penjajah.
Masjid tua ini menjadi saksi umat Islam
turutan di dalam melawan dan mengusir penjajah di Nusantara. Pada masa
perjuangan kemerdekaan melawan Belanda dan Jepang Masjid al-Mujahidin
ini menjadi markas serta kamp pelatihan pasukan Laskar Hizbullah,
pasukan perang bentukan Masyumi tahun 1944 M.
Setelah Hizbullah terbentuk para tokoh
Islam segera mengkampanyekan kepada seluruh umat Islam di Jawa,
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan daerah daerah lain di Indonesia. Pada
pertengahan Desember 1944, perwakilan federasi Islam telah mengadakan
perjalanan keliling Jawa untuk mengadakan inspeksi terhadap sukarelawan
Hizbullah di semua karesidenan.
Untuk mengumpulkan para pemuda Islam yang
akan dididik dalam kemiliteran, tokoh tokoh Islam tidak menemui
kesulitan. Sebab, para pemuda Islam telah memiliki kesadaran yang cukup
tinggi dalam membela Tanah Airnya dari cengkeraman penjajah. Banyak
santri yang dengan kesadarannya sendiri serta restu para kiai bersedia
menjadi anggota laskar Hizbullah. Kemudian itu juga didukung oleh adanya
kerjasama serta saling pengertian antara tokoh tokoh di pusat dengan
para pemimpin pesantren.
Masyumi sendiri adalah tempat
bergabungnya organisasi-organisasi Islam ketika itu, seperti
Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), PUI, PUII dan yang lain. Di Masjid
al-Mujahidin inilah para pemuda-pemuda umat Islam dilatih dan digembleng
bukan hanya ilmu-ilmu kemiliteran, namun juga tsaqafah Islam
untuk menjadi tentara-tentara tangguh pengusir penjajah. Masjid ini pun
menjadi pusat penggemblengan Laskar Hizbullah untuk kemudian ditempatkan
di berbagai lokasi di Pulau Jawa dan Madura.
Latihan diselenggarakan selama 3 bulan
dipimpin oleh para Sydanco Peta, yang terdiri dari Abdullah Sajad, Zaini
Nuri, Abd. Rachman, Kamal Idris dan lain-lainya. Yang bertindak sebagai
komandan latihan adalah seorang opsir Jepang, Kapten Yanagawa.
Selain dilatih kemiliteran, para pemuda
Islam itu juga diberi bekal pendidikan kerohanian. KH Zarkasy (Gontor
Ponorogo) KH Mustofa Kamil (Jawa Barat), KH Mawardi (Solo), KH Mursyid
(Kediri) adalah para ulama yang memberikan pembinaan kerohanian.
Di antara ulama yang paling banyak
memberikan ceramah ialah KH Mustofa Kamil dari Singaparna (Jawa Barat)
serta KH Abdul Halim dari Majalengka, Pemimpin Umum PUI, yang
kadang-kadang juga memberikan pelajaran teknik membuat alat peledak.
Latihan itu dibuka pada 28 Pebruari 1945,
dihadiri oleh Gunseikan, para perwira bala tentara Dai Nippon, Pimpinan
Pusat Masyumi, Pangreh Praja dan lain-lain. Para anggota barisan
Hizbullah mengikuti upacara dengan berseragam biru dengan kopiah hitam
putih dan bersimbul bulan sabit dan bintang. Acara dimulai dengan
pemeriksaan barisan oleh Gunseikan yang kemudian dilanjutkan dengan
pidato sambutan Gunseikan.
Zainul Arifin sebagai ketua Markas
Tertinggi Hizbullah dan Wachid Hasyim sebagai ketua muda Masyumi juga
ikut menyampaikan sambutan. Kedua tokoh Islam itu mengingatkan kepada
pemuda Islam peserta pendidikan akan pentingnya diselenggarakan latihan
kemiliteran untuk membela agama Islam dan cita-cita perjuangan bangsa.
Pemilihan Cibarusah sebagai tempat
latihan semi miter Laskar Hizbullah karena dinilai tempat tersebut
sangat strategis. Di antaranya adalah karena masih banyak hutan dan
terletak tidak jauh dari pusat kekuasaan Jepang di Jakarta. Laskar
Hizbullah dibentuk atas usulan 10 ulama besar di Jawa, untuk mengimbangi
Laskar PETA (Pembela Tanah Air), tentara nasionalis bentukan Jepang
tahun 1942. Meskipun antara PETA dan Hizbullah berbeda, kurikulum
militernya disusun oleh orang yang sama, yaitu Kapten Yamazaki.
Pada masa itu, Masjid Al-Mujahidin KBC
bukan hanya sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga pusat komando dalam
mengatur strategi. Dari Masjid ini KH Zainul Arifin, yang merupakan
seorang tokoh muda yang ketika itu menjabat sebagai konsul NU di
Jakarta, mengobarkan semangat anak muda khususnya kaum santri pesantren
untuk menjadi garda terdepan perjuangan melawan penjajah. Dalam rapat
Masyumi Banten 15 Januari 1945, KH Zainul Arifin menyampaikan pidato
yang kutipannya begitu terkenal berbunyi, “Hanya dengan adanya
pemuda-pemuda yang berani berjuang, keluhuran bangsa dapat tercapai.”
Pembinaan Hizbullah dipercayakan kepada
Masyumi, sedangkan latihannya dilaksanakan oleh Kapten Yamazaki. Pusat
latihan Hizbullah dikelola oleh Markas Tertinggi Hizbullah yang dipimpin
oleh KH Zainul Arifin, Konsul NU di Jakarta. Anggotanya meliputi Abdul
Mukti, Konsul Muhammadiyah Madiun, Ahmad Fathoni, Muhammad Syahid, Amir
Fattah, Prawoto Mangkusasmito, dan KH Mukhtar. Adapun penanggung jawab
politik adalah KH A. Wahid Hasyim, didampingi KH Abdul Wahab Hasbullah,
Ki Bagus Hadikusumo, KH Masykur, Mr. Mohammad Roem, dan Anwar
Tjokroaminoto.
Latihan semi-militer Hizbullah
diselenggarakan masing-masing selama dua bulan di Cibarusah, Bogor
(sejak 1950 Cibarusah dimasukkan ke dalam wilayah Kabupaten Bekasi).
Pada angkatan pertama latihan, diikuti 150 pemuda yang dikirim dari tiap
keresidenan di seluruh Jawa dan Madura. Masing-masing keresidenan
sebanyak lima pemuda. Jumlah anggota Hizbullah diperkirakan mencapai 50
ribu orang
Sejarah Tertulis Masjid Al-Mujahidin KBC
Di atas pintu masuk utama masjid ini
tertulis dalam aksara Arab dan Latin “MASJID AL-MUJAHIDIN BABAKAN KOTA
CIBARUSAH, JUNI 1937, ROBIUL AWAL 1356”. Lengkap dengan lambang laskar
Hizbullah di bagian atasnya. Sementara di salah satu dari enam tiang
utama di dalam masjid terpasang prasasti kecil dalam bahasa Belanda yang
berbunyi “HERBOUWD 1935/1937, COMITE MASDJID”
Di dinding depan masjid juga terpasang
piagam pendirian masjid dari Kantor Departemen Agama Kabupaten Bekasi
bertanggal 19 Syafar 1409H / 1 Oktober 1998M dan ditandatangani oleh
Kepada Kantor Departemen Agama Kabupaten Bekasi HM. Zainuddin, BA. Dalam
piagam tersebut dijelaskan bahwa masjid Al-Mujahidin yang terletak di
Kampung Babakan Desa Cibarusah Kota, dibangun pada tahun 1930.
Piagam tersebut juga menyatakan bahwa
Masjid Al-Mujahidin Kampung Babakan Cibarusah ini sudah terdaftar di
Departemen Agama dengan nomor 34/MJ/1988. dan disebutkan juga bahwa
piagam pendirian masjid tersebut dikeluarkan berdasarkan surat
keterangan dari Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Cibarusah bernomor
K.13/05/142/1998 tanggal 16 Agustus 1988. Sebagai mana disebutkan dalam
piagam tersebut bahwa dikeluarkannya piagam pendirian masjid ditahun
1988 itu menjadi pengukuhan pendirian masjid sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
Menurut aplikasi “google terjemah”,
Herbouwd dalam bahasa Belanda bila Indonesiakan berarti “dibangun
kembali”. Merujuk kepada tahun tersebut saja masjid ini sudah jauh lebih
tua dari umur Republik Indonesia tercinta ini. Menjadi pertanyaan
adalah, kapan masjid Al-Mujahidin ini pertama kali dibangun dan oleh
siapa ?. Bila kita mencermati tiga sumber tertulis di atas ada 3 angka
tahun yang berbeda, masing masing adalah tahun 1937 di atas pintu utama
masjid, tahun 1935/1937 sebagaimana tertulis dalam prasasti di tiang
masjid dan tahun 1930 seperti dijelaskan dalam piagam pendirian masjid
yang dikeluarkan oleh Kantor Departemen Agama Kabupaten Bekasi.
Bisa saja kita menyimpulkan bahwa
masjid tersebut dibangun tahun 1930M lalu di renovasi atau “dibangun
kembali” lima tahun kemudian (tahun 1935 M) dan proses direnovasi
tersebut selesai dilaksanakan pada bulan Juni tahun 1937 M bertepatan
dengan bulan Robiul Awal tahun 1356 H. Lalu kenapa harus dibangun
kembali ditahun 1935M/1937 M ?. Kawasan Cibarusah bukanlah kawasan padat
penduduk di era tersebut, jalan akses dari dan menuju kesana pun sangat
sulit ketika itu. Pertambahan jumlah penduduk yang membengkak dalam
kurun 5 tahun sepertinya bukanlah alasan yang dapat diterima sebagai
dasar pembangunan kembali masjid tersebut untuk diperluas guna menampung
membludaknya jamaah.
Penetapan angka 1930M oleh Kantor
Departemen Agama Kabupaten Bekasi sebagai tahun pendirian masjid itupun
sepertinya masih patut dipertanyakan, mengingat adanya batu nisan salah
satu makam di samping masjid yang bertarikh 1916M. Seperti yang sudah
umum terjadi, biasanya pemakaman umum dibangun di sebelah Masjid, bukan
Masjid yang dibangun disebelah pemakaman umum. Artinya, boleh jadi
masjid ini dibangun jauh sebelum tahun 1916M sebagaimana tarikh pada
Nisan Makam tersebut. Butuh penggalian lebih dalam untuk menjawab
pertanyaan pertanyaan tersebut.
Sejarah Tutur Masjid Al-Mujahidin Kampung Babakan Cibarusah
Sejarah tutur yang disampaikan secara
turun temurun menyebutkan bahwa masjid Al-Mujahidin di Kampung Babakan
Cibarusah (KBC) ini dibangun pertama kali olehPangeran Senapati, salah
satu keturunan Pangeran Jayakarta Wijayakrama. Konon di
tahun 1619 M Pangeran Jayakarta memerintahkanPangeran
Senapati menyelamatkan diri dari kepungan Belanda, paska kekalahan Sunda
Kelapa dalam perang melawan Belanda di bulan April-Mei 1619M, sekaligus
membangun pertahanan di kawasan pesisir dan pedalaman. Maka dimulailah
perjalanan panjangPangeran Senapati bersama pasukannya menyusuri pantai
utara Jawa, melewati daerah Cabang Bungin, Batujaya, Pebayuran, Rengas
Bandung, Lemah Abang, Pasir Konci hingga sampai di sebuah kawasan hutan
jati.
Di kawasan hutan jati itulah
kemudian Pangeran Senopati berhenti bersama pasukan dan keluarga yang
masih menyertainya. Beliau menganggap kawasan hutan lebat itu sebagai
lokasi persembunyian yang aman dari kejaran pasukan Belanda. Termasuk
untuk tinggal mengembangkan keluarga dan keturunan. Babat alas dimulai
untuk membangun pemukiman baru yang dikemudian hari dikenal dengan nama
Cibarusah. Kata Cibarusah sendiri konon berasal dari kalimat berbahasa
sunda “Cai baru sah”.
Dikisahkan bahwa ketika masjid masjid
telah didirikan, jemaah kesulitan untuk mendapatkan air bersih yang
memenuhi sarat sah untuk bersuci sebelum menunaikan sholat. Ketika
pencarian sumber air berhasil menemukan sumber air bersih salah satu
ulama yang menyertai Pangeran Senopatiberujar dalam bahasa Sunda “nah
ieu’ CAI’ BARU SAH” yang berarti “Nah ini airnya baru sah” maksudnya sah
secara syar’i untuk keperluan bersuci. Kalimat “CAI’ BARU SAH” itulah
yang kemudian menjadi CI BARU SAH. Sedangkan nama kampung ‘Babakan’
berasal dari kata ‘Bukbak’ dalam bahasa sunda yang berarti membersihkan.
Masjid yang pertama kali dibangun
oleh Pangeran Senopati tersebut berbahan utama kayu jati yang ketika itu
melimpah disana. Tak jauh dari masjid dibangun sebuah kolam penampung
air bersih berukuran kira kira 20x30m untuk menampung air bersih yang
dialirkan dari sumbernya menggunakan pipa pipa bambu dan saluran yang
dibangun secara bergotong royong. Riwayat tutur menyangkut sejarah
masjid ini terputus sampai disitu. Hingga kini keturuan Pangeran Sena
masih ada di KBC, keluarga beliau dapat dikenali dengan gelar ‘Raden’
yang disematkan kepada nama mereka masing masing. Pangeran Senapati
wafat dan dimakamkan di Kampung Babakan Cibarusah (KBC) dan dikenal
dengan sebutan Makam Embah Uyut Sena.
Peran Masjid Al-Mujahidin KBC Pada Masa Perjuangan
Dimasa perjuangan kemerdekaan melawan Belanda dan Jepang masjid
Al-Mujahidin ini menjadi markas serta camp pelatihan pasukan Laskar
Hizbulllah, Pasukan perang bentukan Masyumi tahun 1944M. Masyumi menjadi
tempat bergabungnya organisasi organisasi Islam ketika itu termasuk
Nahdatul Ulama (NU) dibawah pimpinan KH. Wachid Hasyim (Pahlawan Nasional dan juga ayah dari Mantan Presiden RI, KH. Abdurrahman Wachid alias
Gusdur). Di masjid inilah yang menjadi pusat penggemblengan Laskar
Hizbullah untuk disiapkan menjadi tentara terlatih untuk kemudian
ditempatkan di berbagai lokasi di pulau Jawa dan Madura.
Dipilihnya Cibarusah sebagai tempat latihan semi miter Laskar
Hizbullah karena dinilai strategis. Masih banyak hutan dan terletak
tidak jauh dari pusat kekuasaan Jepang di Jakarta. Laskar Hizbullah
dibentuk atas usulan 10 ulama besar di Jawa, untuk mengimbangi Laskar
PETA (Pembela Tanah Air) tentara nasionalis bentukan Jepang tahun
1942. Meskipun antara PETA dan Hizbullah berbeda, namun kurikulum
militernya disusun oleh orang yang sama, yaitu Kapten Yamazaki.
Pada masa itu, Masjid Al-Mujahidin KBC bukan hanya sekedar sebagai
tempat ibadah saja, tapi juga pusat komando dalam mengatur strategi.
Dari Masjid ini KH. Zainul Arifin (pahlawan
Nasional) merupakan seorang tokoh muda yang ketika itu menjabat sebagai
konsul NU di Jakarta, mengobarkan semangat anak muda khususnya kaum
santri pesantren untuk menjadi garda terdepan perjuangan melawan
penjajah. Dalam rapat Masyumi Banten 15 Januari 1945, KH. Zainul Arifin menyampaikan pidato yang kutipannya begitu terkenal berbunyi “Hanya dengan adanya pemuda-pemuda yang berani berjuang, keluhuran bangsa dapat tercapai”.
Pembinaan Hizbullah dipercayakan kepada Masyumi, sedangkan
latihannya dilaksanakan oleh Kapten Yamazaki. Pusat latihan Hizbullah
dikelola oleh Markas Tertinggi Hizbullah yang dipimpin oleh KH. Zainul Arifin,
Konsul NU di Jakarta. Anggotanya meliputi Abdul Mukti, Konsul
Muhammadiyah Madiun, Ahmad Fathoni, Muhammad Syahid, Amir Fattah,
Prawoto Mangkusasmito, dan KH Mukhtar.
Adapun penanggungjawab politik adalah KH A. Wahid Hasyim,
didampingi KH Abdul Wahab Hasbullah, Ki Bagus Hadikusumo, KH Masykur,
Mr. Mohammad Roem, dan Anwar Tjokroaminoto.
Latihan semi-militer Hizbullah diselenggarakan masing masing selama
dua bulan di Cibarusah, Bogor (sejak 1950 Cibarusah dimasukkan ke dalam
wilayah Kabupaten Bekasi). Pada angkatan pertama latihan, diikuti 150
pemuda yang dikirim dari tiap keresidenan di seluruh Jawa dan Madura.
Masing-masing keresidenan sebanyak lima pemuda. Jumlah anggota Hizbullah
diperkirakan mencapai 50 ribu orang.
Sumber : http://gunrakyatbekasi.wordpress.com/2013/05/27/masjid-al-mujahidin-cibarusah-basis-perjuangan-melawan-penjajah/ Semoga bermanfaat artikel ini salam BBB | |||
Sabtu, 26 April 2014
Sejarah Masjid Al-Mujahidin Kampung Babakan Cibarusah
Sejarah Gedung Juang 45 Tambun
| Gedung Juang 45 - Tambun |
Tidak banyak yang tau sejarah Gedung Juang 45 ini, gedung yang dilihat kasat mata ini angker namun memiliki sejarah yang patut kita ketahui, gedung berdua lantai ini kini di huni kelelawar - kelelawar yang jumlahnya ratusan ekor. namun gedung juang masih banyak saja yang mengunjinginya.
Yang
menarik, Bekasi masih memiliki gedung bersejarah peninggalan pra masa
kemerdekaan yang dikenal sebagai Gedung Tinggi yang terletak di jalan
Sultan Hasanudin, dekat Pasar Tambun dan Stasiun kereta api Tambun.
Gedung Tinggi ini sekarang dikenal sebagai gedung juang 45. Bangunan
berarsitektur neoklasik ini dibangun oleh tuan tanah Kow Tjing Kie pada
tahun 1910. Gedung tinggi ini merupakan salah satu gedung bersejarah
yang turut menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Bekasi saat revolusi
fisik. Ketika itu daerah Tambun dan Cibarusah menjadi pusat kekuatan
pasukan republik Indonesia (RI). Perlu diketahui bahwa pada saat
revolusi kemerdekaan, garis demarkasi yang memisahkan daerah Republik
Indonesia dengan daerah kekuasaan Belanda terletak didaerah Sasak
Jarang, sekarang menjadi perbatasan antara kecamatan Bekasi Timur dengan
Kecamatan Tambun dan merupakan perbatasan Kota Bekasi dengan Kabupaten
Bekasi.
Akibat serangan bertubi-tubi, pertahanan pasukan Belanda di Bekasi sering ditinggalkan. Mereka kemudian memusatkan diri ke daerah Klender Jakarta Timur. Sebaliknya, para pejuang Indonesia menjadikan gedung tinggi ini sempat dijadikan sebagai pertahanan di front pertahanan Bekasi- Jakarta.
Dikuasai Tuan Tanah
Setelah pasukan Belanda meninggalkan Bekasi. Gedung Juang yang terdiri dari dua lantai ini, dimiliki dan dikuasai seorang tuan tanah keturunan Cina bernama Kouw Oen Huy. Tuan tanah yang berhasil menguasai ratusan hektare tanah di Kecamatan Tambun, bahkan memiliki perkebunan karet. Ia digelari ‘Kapitaen’.
Ia tidak hanya menguasai tanah di Tambun tapi juga daerah Tekuk Pucung yang jaraknya puluhan kilometer dari Tambun, termasuk di daerah Cakung, juga menjadi milik tuan tanah ini.
Gedung Juang yang kini menjadi perkatoran milik Pemerintah Kabupaten Bekasi, dibangun dua tahap, tahun 1906 dan tahun 1925. Pada awalnya, di bagian halaman muka Gedung Juang ini, dijadikan taman buah yang diantaranya banyak ditanami pohon mangga yang pada saat itu belum pernah dikenal masyarakat Tambun dan Bekasi.
Tuan tanah Kouw Oen Huy, menguasai bangunan tua ini hingga 1942. Selanjutnya, tahun 1943, bangunan bersejarah tersebut berada di bawah pengawasan pemerintahan Jepang hingga tahun 1945. Tentara Jepang, juga menggunakan bangunan tua ini sebagai pusat kekuatannya dalam menjajah Indonesia.
Pada masa perjuangan kemerdekaan 1945, bangunan yang berlokasi di atas tanah sekitar 1000 meter ini, diambil alih oleh Komite Nasional Indonesia (KNI) untuk dijadikan sebagai Kantor Kabupaten Jatinegara. Pada masa itu, Bekasi dijadikan sebagai daerah front pertahanan, maka gedung tersebut berfungsi juga sebagai Pusat Komando Perjuangan RI dalam menghadapai Tentara Sekutu yang baru selesai perang dunia kedua.
Di gedung yang mempunyai makna monumental ini, perudingan dan pertukaran tawanan perang terjadi. Lokasi pelaksanaan pertukaran tawanan sendiri dilakukan di dekat Kali Bekasi yang kini tidak jauh dari rumah pegadaian Bekasi. Banyak tentara Jepang meninggal dibantai dan dibuang di Kali Bekasi, membuat setiap tahun tentara Jepang selalu melakukan tabur bunga di kali yang membentang kota Bekasi ini.
Dalam pertukaran tawanan, pejuang-pejuang RI oleh Belanda dipulangkan ke Bekasi, dan tawanan Belanda oleh pejuang RI dipulangkan ke Jakarta lewat kereta api yang lintasannya persis berada di belakang Gedung Juang. Gedung yang tidak jauh dari Pasar Tambun Bekasi ini, juga pernah dijadikan sebagai Pusat Komando Perjuangan RI pada masa perjuangan fisik. Gedung ini selalu menjadi sasaran tembak pesawat udara dan meriam Belanda. Banyak keanehan pada gedung ini. Ketika meriam Belanda dijatuhkan di atas bangunan tersebut, ternyata meriam itu tidak meledak dan hanya merusak sebagian kecil bangunan
Akibat serangan bertubi-tubi, pertahanan pasukan Belanda di Bekasi sering ditinggalkan. Mereka kemudian memusatkan diri ke daerah Klender Jakarta Timur. Sebaliknya, para pejuang Indonesia menjadikan gedung tinggi ini sempat dijadikan sebagai pertahanan di front pertahanan Bekasi- Jakarta.
Dikuasai Tuan Tanah
Setelah pasukan Belanda meninggalkan Bekasi. Gedung Juang yang terdiri dari dua lantai ini, dimiliki dan dikuasai seorang tuan tanah keturunan Cina bernama Kouw Oen Huy. Tuan tanah yang berhasil menguasai ratusan hektare tanah di Kecamatan Tambun, bahkan memiliki perkebunan karet. Ia digelari ‘Kapitaen’.
Ia tidak hanya menguasai tanah di Tambun tapi juga daerah Tekuk Pucung yang jaraknya puluhan kilometer dari Tambun, termasuk di daerah Cakung, juga menjadi milik tuan tanah ini.
Gedung Juang yang kini menjadi perkatoran milik Pemerintah Kabupaten Bekasi, dibangun dua tahap, tahun 1906 dan tahun 1925. Pada awalnya, di bagian halaman muka Gedung Juang ini, dijadikan taman buah yang diantaranya banyak ditanami pohon mangga yang pada saat itu belum pernah dikenal masyarakat Tambun dan Bekasi.
Tuan tanah Kouw Oen Huy, menguasai bangunan tua ini hingga 1942. Selanjutnya, tahun 1943, bangunan bersejarah tersebut berada di bawah pengawasan pemerintahan Jepang hingga tahun 1945. Tentara Jepang, juga menggunakan bangunan tua ini sebagai pusat kekuatannya dalam menjajah Indonesia.
Pada masa perjuangan kemerdekaan 1945, bangunan yang berlokasi di atas tanah sekitar 1000 meter ini, diambil alih oleh Komite Nasional Indonesia (KNI) untuk dijadikan sebagai Kantor Kabupaten Jatinegara. Pada masa itu, Bekasi dijadikan sebagai daerah front pertahanan, maka gedung tersebut berfungsi juga sebagai Pusat Komando Perjuangan RI dalam menghadapai Tentara Sekutu yang baru selesai perang dunia kedua.
Di gedung yang mempunyai makna monumental ini, perudingan dan pertukaran tawanan perang terjadi. Lokasi pelaksanaan pertukaran tawanan sendiri dilakukan di dekat Kali Bekasi yang kini tidak jauh dari rumah pegadaian Bekasi. Banyak tentara Jepang meninggal dibantai dan dibuang di Kali Bekasi, membuat setiap tahun tentara Jepang selalu melakukan tabur bunga di kali yang membentang kota Bekasi ini.
Dalam pertukaran tawanan, pejuang-pejuang RI oleh Belanda dipulangkan ke Bekasi, dan tawanan Belanda oleh pejuang RI dipulangkan ke Jakarta lewat kereta api yang lintasannya persis berada di belakang Gedung Juang. Gedung yang tidak jauh dari Pasar Tambun Bekasi ini, juga pernah dijadikan sebagai Pusat Komando Perjuangan RI pada masa perjuangan fisik. Gedung ini selalu menjadi sasaran tembak pesawat udara dan meriam Belanda. Banyak keanehan pada gedung ini. Ketika meriam Belanda dijatuhkan di atas bangunan tersebut, ternyata meriam itu tidak meledak dan hanya merusak sebagian kecil bangunan
Akhir 1947, ketika Belanda menghianati perundingan Linggarjati tanggal 21 Juli, Belanda mengadakan aksi pertama (dikenal sebagai Agresi Militer Belanda Pertama). Mengingat gedung ini merupakan markas basis pertahanan, maka tidak mengherankan bila di sekitar gedung ini sering terjadi pertempuran dan pembantaian yang bertubi-tubi. Bahkan gedung ini pernah di duduki Belanda/NICA hingga tahun 1949. Namun, gedung yang sangat mempunyai nilai sejarah dan merupakan kebanggaan mayarakat Bekasi ini, kembali berhasil direbut oleh pejuang Bekasi pada awal 1950.
Museum Perjuangan Bekasi
Setelah masa perjuangan merebut kemerdekaan, gedung ini mengalami berbagai perkembangan dan perubahan fungsi. Selain bangunan bersejarah, bangunan tersebut sering digunakan sebagai pusat aktivitas.
Di antaranya, tahun 1950 setelah Tambun dikuasai lagi oleh Republik Indonesia, gedung ini diisi dan ditempati pertama sekali oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bekasi.
Juga pernah digunakan sebagai kantor Jawatan Pertanian dan jawatan-jawatan lainnya sampai akhir 1982. Bangunan yang berada di bagian timur Bekasi ini, juga sempat dijadikan sebagai tempat persidangan-persidangan DPRDS, DPRD-P, DPRD TK II Bekasi dan DPRD-GR hingga tahun 1960.
Tahun 1951, di gedung ini sempat diisi oleh pasukan TNI Angkatan Darat Batalyon “Kian Santang”. Batalyon Kian Santang ini sekarang menjadi bagian dari Kodam III Siliwangi. Tahun 1962, kemudian gedung ini dibeli Pemerintah Propinsi Jawa Barat. Ketika peristiwa Gerakan G 30S/PKI pecah, gedung ini juga sempat dijadikan sebagai penampungan Tahanan Politik (Tapol) PKI.
Mengingat letaknya yang strategis, oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi saat Bupati Bekasi dijabat Abdul Fatah, bangunan ini sempat dijadikan sebagai tempat perkuliahan bagi mahasiswa Akademi Pembangunan Desa (APD) yang merupakan cikal bakal pembangunan perguruan tinggi di Bekasi, dan kini dikenal dengan Universitas Islam 45 (Unisma).
Manfaat lain gedung ini, juga sempat digunakan sebagai Kantor BP-7 dan Kantor Legiun Veteran. Tahun 1999, di gedung menjadi sekretraist Pemilu. Lalu menjadi kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Sekretarit Kantor Pepabri dan Wredatama. Kini gedung yang menghadap timur ini, menjadi kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kantor Tenaga Kerja Pemertintah Kabupaten Bekasi.
Suasana gedung kuno terasa melingkupi seluruh gedung, apalagi gedung ini cukup luas dan terasa senyap jika tidak ada kegiatan yang melibatkan orang ramai. Yang ramai justru suara burung Walet dan kelelawar…
Gedung ini sempat diabadikan dalam film “Lebak Membara”, dimana HIM Damsyik sebagai pejuang tewas setelah jimat kebal pelurunya tersangkut dipagar saat hendak menurunkan bendera musuh dihalaman gedung Tinggi :-).
Jika suatu saat datang ke Bekasi, sempatkan datang ke Gedung Tinggi. Jika menjadi warga Bekasi, sayang sekali jika tidak tahu sejarah perjuangan Rakyat Bekasi yang salah satu monumen dan saksi bisunya adalah Gedung kuno yang bernama Gedung Tinggi Tambun.
Semoga bermanpaat
Salam BBB
Selasa, 01 April 2014
Nama nama orang bekasi dari masa kemasa
Nama nama orang bekasi dari masa kemasa
Amah
Amih
Amit
Amat
Amin
Aman
Bosih
Boih
Bonan
Bonin
Bodong
Bakul
Caman
Cimin
Comot
Cangli
Conin
Duloh
Dasim
Danang
Dalu
Dablu
Enah
Enih
Esih
Esan
Enin
Emar
Emot
Fatimah
Fatonah
Gembor
Gomin
Gunah
Gunan
Gamir
Imin
Imun
Inan
Isah
Unah
Unang
Udin
Umin
Ucan
Unang
Upit
Kaman
Kamin
Kinin
Kiin
Kicit
Kadut
Kardi
Kandang
Gomin
Gonan
Gembor
Gabir
Pengki
Pein
Penjol
Nein
Nonih
Nujin
Nenah
Nacul
Japra
Jakim
Juki
Sanem
Sanen
Senen
Sarkem
Sariman
Sanih
Lamih
Lamah
Lasih
Landung
Liman
Linah
Lisah
Oman
Osih
Onang
Oding
Omen
Rindon
Rukem
Rudin
Tui
Tulang
Timbla
Tutung
TumanTumin
Tuin
Tunih
Tuyul
Pandir
Perot
Petul
Panjul
Petot
Aduh Sepertinya banyak yang ora kesebut ini mah, bagen ya ini mah hanya sekedar mengingatkan bahwa nama-nama orang bekasi itu unik - unik dan lucu.
Amah
Amih
Amit
Amat
Amin
Aman
Bosih
Boih
Bonan
Bonin
Bodong
Bakul
Caman
Cimin
Comot
Cangli
Conin
Duloh
Dasim
Danang
Dalu
Dablu
Enah
Enih
Esih
Esan
Enin
Emar
Emot
Fatimah
Fatonah
Gembor
Gomin
Gunah
Gunan
Gamir
Imin
Imun
Inan
Isah
Unah
Unang
Udin
Umin
Ucan
Unang
Upit
Kaman
Kamin
Kinin
Kiin
Kicit
Kadut
Kardi
Kandang
Gomin
Gonan
Gembor
Gabir
Pengki
Pein
Penjol
Nein
Nonih
Nujin
Nenah
Nacul
Japra
Jakim
Juki
Sanem
Sanen
Senen
Sarkem
Sariman
Sanih
Lamih
Lamah
Lasih
Landung
Liman
Linah
Lisah
Oman
Osih
Onang
Oding
Omen
Rindon
Rukem
Rudin
Tui
Tulang
Timbla
Tutung
TumanTumin
Tuin
Tunih
Tuyul
Pandir
Perot
Petul
Panjul
Petot
Aduh Sepertinya banyak yang ora kesebut ini mah, bagen ya ini mah hanya sekedar mengingatkan bahwa nama-nama orang bekasi itu unik - unik dan lucu.
Minggu, 02 Februari 2014
Anco
![]() |
| Ibu - ibu saat nganco |
Anco atau nganco, Buat orang bekasi anco ini tidak asing lagi, Terbuat dari bambu yg dibuat persegi empat dan sebatang bambu kira panjang
nya 2 meter buat tunjangannya, tengah nya ada sejenis lawon yg jarang-jarang nya
kaya ayakan tepung. Dan ujung nya lawoon diiket disetiap pojokan ujung. bambu, kenpa kerep nya kaya ayakan tepuna supaya kalaw ada ikan nya ke
tangkep kaga nyeplos sekali pun ikan itu gedenya kaya ikan teri..
buat narik anco harus
ada tambang kira2 panjang nya 3 meter yg diiket di ujung tunjangan bambu
pungsi nya buat ngangakat anco yg udah di jeburina, nah tanda tanda saat anco diangkat kalau ada ikan yg nenggak atau kecubak kecubak di
tengah2 lawon yg kerep tadi angkat dah anco nya, selain nungguin ikan yang nenggak Biasanya Make Empan ,,Terasi,,,Dedek,,ama Nasi Di Elok jadi Satu,,Buat Empanan Nganco.
Semoga bermanfaat
artikel terkait : Tari Topeng Betawi
Semoga bermanfaat
artikel terkait : Tari Topeng Betawi


08.53
Bahasa betawi bekasi
